Name:
Location: Surabaya, East Java, Indonesia

Smart

Wednesday, January 18, 2006

Segarnya Berbuka Puasa dengan Air Zam-zam

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

DI halaman Masjidil Haram sebagian orang terlihat membagi-bagikan makanan takjil. Mulai dari kurma, buah-buahan, susu yoghurt, pisang, roti, dan lainnya. Makanan tadi tersaji di atas hamparan plastik putih yang dibentangkan di luar dan dalam masjid. Tidak ketinggalan, disiapkan pula air zam-zam yang dingin dan segar.

Waktu yang dinantikan ribuan kaum muslimin pun akhirnya tiba, ketika azan magrib berkumandang. Serentak semua orang berbuka puasa. Tegukan air zam-zam dan sebutir buah kurma manis sebagai takjil, sekaligus menghilangkan rasa haus dan lapar yang kami tahan selama seharian. Sungguh, kami meneguk sebuah kenikmatan yang tiada tara.

Rasa kebersamaan dan berbagi kenikmatan seakan menyatu dalam jalinan tali kasih di antara kaum muslimin. Usai berbuka puasa, suara ikhamah (ajakan salat berjemaah) lantas terdengar. Kami pun menunaikan ibadah salat magrib berjemaah. Kenikmatan kembali kami reguk. Mendekati waktu isya, para jemaah dari berbagai penjuru dunia yang tengah melaksanakan umrah dan lainnya, lantas kembali berkumpul di Masjidil Haram.

Begitu tiba waktunya, salat isya pun dilakukan, yang kemudian disusul dengan salat tarawih. Di depan Kakbah, sangat terasa ibadah salat isya dan tarawih menjadi lebih tenang, damai, dan khusyuk. Apalagi lantunan Alquran dari suara imam masjid yang merdu menyentuh hati. Kendati begitu panjang, namun tak menggoyahkan hati untuk cepat beranjak dari syaf dan tetap mengikuti tarawih hingga tuntas. Usai tarawih, doa adalah pekerjaan utama. Selanjutnya, ibadah tawaf sunat mengitari lingkaran Mardhatilah.

**

MENJALANKAN ibadah umrah di bulan Ramadan, selain diisi dengan ibadah di Masjidil Haram dan ziarah ke beberapa tempat suci di Mekah, juga diisi pula dengan perjalanan ibadah ke Masjid Nabawi di Madinah. Perjalanan menuju Madinah dengan bus pada Selasa (19/10) pagi selama kurang lebih lima jam, akhirnya sampi pada pukul 4.00 waktu setempat.

Lokasi hotel yang kami tempati masih di sekitar halaman Masjid Nabawi, sehingga untuk salat wajib ke masjid bisa dengan berjalan kaki. Zikir dan tausiah bersama, kami lakukan di Madinah usai salat asar. Bisa dibayangkan bagaimana perasaan hati tatkala mengumandangkan zikir untuk mengingat kebesaran Allah di kota tempat Rasulullah dimakamkan.

Terasa sangat menggugah kalbu, tak terasa lagi-lagi air mata mengucur dengan derasnya. "Kami adalah makhluk Allah yang penuh dosa. Tidak ada yang bisa dibanggakan, apalagi disombongkan. Kita terasa kecil. Subhanallah, walhamdullillah, wa la illa haillallah, Allahu akbar.

Suasana di Masjid Nabawi agak berbeda dengan di Masjidil Haram. Tertib dan teratur, itulah gambaranya. Menjelang magrib, kaum muslimin kembali berbondong-bondong menuju Nabawi. Bahkan terlihat pula layaknya di Masjidil Haram, di depan Masjid Nabawi banyak orang membagi-bagikan makanan dan minuman, serta sebagian lagi dengan sangat ramah menyambut kedatangan para jamaah seraya berebut mengajak kami ke tempat di mana hidangan yang mereka sajikan tersedia di halaman ataupun di dalam masjid.

Pandangan mata yang bersahabat, serta keinginan untuk berbagi seakan membuat kami pun tak kuasa menolak ajakan mereka, hingga azan magrib tiba dan semua mencicipi hindanngan tersebut. "Bahagianya mereka, hidangan yang mereka saji dapat dinikmati oleh kita," ujar seorang teman.

"Ya, mereka, berharap akan sabda Nabi bahwa barang siapa dapat memberi makan kepada orang yang sedang berbuka berpuasa, maka dia akan memperoleh ganjaran pahala. Dan pahala bagi yang berpuasa pun tidak dikurangi sedikit pun," ucap Ustad Ali menyampaikan pesan salah satu hadist nabi.

Tapi, dari semua yang sempat kami rasakan di Mekah dan Madinah dalam ibadah umrah ramadan ini, ada satu hal yang sempat membuat kami teringat yakni keramahan masyarakat madinah ketika menerima Nabi Muhammad Saw hijrah dari Mekah.

Keramahan yang disuguhkan warga Madinah dalam menyambut siapa saja yang datang ke Masjid Nabawi guna buka puasa bersama, termasuk kami, sepertinya menjadi gambaran nyata betapa memang ada alasan sangat kuat mengapa Rasulullah memilih Madinah sebagai tempat tujuan hijrah, sekaligus tanah untuk menghabiskan masa hidupnya. Benar atau tidak, wallahu a'alam.(Rizwan/"PR")***


Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

0 Comments:

Post a Comment

<< Home