Name:
Location: Surabaya, East Java, Indonesia

Smart

Sunday, January 15, 2006

Satimin & Samiyem

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Bismillahirrohmanirrohim,
Dengan adanya tayangan televisi serta berita yang ramai di media, tentang Tragedi Jamarat
mengetuk saya untuk sedikit menceritakan 'sesuatu' agar hal ini bisa menjadi informasi bagi rekan semua.
Dan mengurangi rasa was-was yang mungkin ada. Semoga...

Agaknya Bpk Satimin dan Ibu Samiyem, bersama dalam malam terakhir berada di Mabit Muzdalifah.
Sebuah padang yang dikelilingi oleh gurun-gurun, dan terasa dingin.
dipadang tsb, memang Tidak boleh mendirikan Tenda
(*email terdahulu, merasakan jadi orang mbambung, red*)

Pemandangan disana, bisa menyaksikan bintang dilangit secara langsung, berdo'a serta bersilaturohmi dengan sesama muslim diseluruh indonesia krn jamaah dipisah-pisah berdasarkan negara, kenalan ama jamaah lain, bercanda sambil menunggu bus yang akan mengangkut kloter demi kloter ke Tenda yang sudah disediakan pemerintah menuju Mina.

Jika ada bus datang, ada pengumuman dan gruduk-gruduk....wew, wadow...hua (*lapo ae iki*)

Pelan titik opo-o rek, mlaku biasa ae opo'o rek koq semua serba terburu-buru ;-(
Iyo nek awak'e kuat, lah nek wis sepuh kedorong-dorong peyok kabeh awak-e, boyok-e
iso pegel linux nie.... (*Iki sopo sing ngomel yooo*)
makane mumpung sik enom, sik kuat, ayo podo berangkat

Kenapa bu Samiyem tidak beserta bapak Satimin disaat kejadian ?
Menurut berita dimedia, krn bu Samiyem keseleo waktu rebutan naik bis di Muzdalifah...

yah memang seperti itu kejadiannya, bus terbatas, jamaah saling dorong saling rebut, sampai puyeng dech...
lagian arus lalulintas demikian macetnya, suara bis, klakson memekakkan telinga dimalam itu...
sehingga dimalam yang dingin itu, dipastikan banyak orang puyeng tujuh keliling
karena harus berdesak-desakan rebutan bis (*yang sebetulnya sudah disediakan oleh pemerintah*), kenapa berdesak-desakan sih ? bisa jadi mereka takut ketinggalan, bisa jadi karena terhalangi oleh orang lain, sehingga tidak bisa lewat, dan khawatir bisa jadi keliru bis, wah bisa berabe nih ;-)
Jam pengangkutan jamaah dan rebutan bis, mulai sekitar jam 10 malam hingga subuh. Antri terus pokokna...
dulu rombongan saya jam 2 malam baru diangkut, jadi sekitar 7 Jam Mabit di Mina.

Puyeng karena macet lalulintas kendaraan, juga lalulintas manusia yang berjubel-jubel, namun disaat itu banyak juga orang yang mulai keliatan sifat manusiawi, ada yang mudah emosi, ada yang mudah sakit, ada yang suka mbanyol dan menghibur temannya yang sedang kesulitan walau sama-sama sulitnya nih, ada yang menikmati suasana dengan penuh syukur dan melewati semua dengan tabah dan tawakal, dst

Kembali ke Bapak Satimiin dan Ibu Samiyem.
Setelah sampai di tenda Mina, mendekati waktu Afdol untuk lempar jumrah, sebelum jam 10 pagi konon bapak Satimin berangkat bersama dengan teman2 KBIH Al-Fattah, dan beliau gugur dalam perjuangan untuk mencapai Ula Wusta dan Aqobah. Kenapa saya katakan itu perjuangan berat ? Belon cukup istirahat setelah wukuf dan waktu mabit di Muzdalifah,
kalau dirasakan badan terasa cape, namun hal itu tidak mengurangi semangatnya untuk menuju waktu yang paling afdol.

Semoga beliau mati Sahid, dan Jihadnya diterima oleh Allah swt yang telah memanggilnya dalam keadaan suci.
Dan Ibu Samiyem bisa merelakan serta meng-ikhlaskan suami tercinta untuk dipanggil oleh Nya.
Insya Allah Sesuatu hal yang sangat membahagiakan bagi Bapak Satimin, akan peristiwa ini Semoga Arwahnya diterima Oleh Nya, Mati dalam keadaan Khusnul Khotimah, Sahid, krn Jihad yang telah ditempuhnya. Amien..

Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

0 Comments:

Post a Comment

<< Home