Name:
Location: Surabaya, East Java, Indonesia

Smart

Wednesday, January 18, 2006

Raudhah

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Oleh-Oleh Ratih Sanggarwati

Senin, 18 Juli 2005“O… begini toh mbak, yang dibilang orang?” Tanya mbak Tati salah satu jemaah umroh NooR-Balda sambil mengusap air matanya.
“Apanya yang begini mbak Tati?, tanya saya juga sambil menyeka airmata.“Iya… orang yang sudah pernah umroh bilang, kalau ke Raudhah, berebutan, berdesak-desakan, saling injak dan susah melakukan shalat dua rakaat.”“Ya, karena semua pecinta Rasulullah ingin mencapai barisan terdepan di Raudhah mbak.”“Padahal kan Raudhah itu cukup luas, ya.”“Kok mbak Tati tahu…”.“Saya baca sejarah masjid Nabawi yang diberikan majalah NooR, mbak”.Sebuah attitude yang baik dari karyawati Bank Rakyat Indonesia ini, sebelum ziarah dan beribadah di masjid Nabawi, maka tulisan yang ada tentang masjid tersebut dibaca tuntas agar paham betul tiap sudut dari masjid Nabawi.“Yang saya bingung mbak… Raudhah luas, tapi semua berlomba mengambil tempat terdepa, ” sahut mbak Riza hampir berbarengan dengan mbak Feri.“Sebenarnya bisa saja kita shalat di belakang, selama kita berada di karpet hijau keabuan itu sudah Raudhah, tetapi agak susah menunaikan shalat di belakang karena arus jemaah yang luar biasa…”“Iya juga ya, mbak… kalau tidak ada yang membentengi, pasti ke injak …,”suara mbak Tati terasa sangat khawatir.“Betul, mbak…,”saya membenarkan apa yang menjadi kekhawatiran mbak Tati.Kami menyusuri jalan keluar dari Raudhah, kemegahan Nabawi sempat membuat Pak Muhammad Farid jemaah dari LPRS merasakan disorientasi. Bayangan Pak Farid masjid Nabawi masih seperti dalam cerita-cerita tentang Rasulullah, setidaknya ada bagian yang mengesankan dan mengingatkan zaman hijrah itu. Sesampai di luar sedikit dari Raudhah kami duduk kembali di karpet merah bershalawat sambil tidak henti-hentinya memandangi makam dan mihrab Rasulullah dari kejauhan.“Saya sedih, mbak…,” bisik mbak Tati.“Saya juga terharu, mbak…,”jawab saya juga berbisik.Kami terdiam kembali sambil menyeka airmata dan terus bershalawat kepada Rasulullah sang pujaan.“Apa keluarnya airmata ini juga haram, mbak?” bisik mbak Riza di sebelah kiri saya.Saya jadi ingat sebelum pintu pagar Raudhah dibuka ada Asykar perempuan yang menjelaskan dalam bahasa Arab tentang makam Rasulullah dan letak Raudhah, serta tata tertib menziarahi Beliau. Ketika ada kata-kata haram dari Asykar, saya bertanya pada salah satu jamaah Arab yang mengerti bahasa Inggris, katanya tidak boleh menangis ketika berziarah. “Saya rasa tidak ya, mbak Riza. Isakan dan tetesan air mata ini keluar karena kerinduan yang dalam, kan kita tidak menagis meraung-raung,” jawab saya sambil mereka-reka. Mungkin yang dibilang haram oleh Asykar adalah yang tangisnya sampai meraung-raung. Kami beranjak lagi untuk keluar dan menjauhi Raudhah.“Kenapa harus tersiksa ya, mbak, untuk ke Raudhah?” mbak Feri memecah kebisuan kami. “Tersiksa bagaimana, mbak Feri?”“Ya, seperti kata mbak tadi harus berebutan, berdesakan bahkan ada yang terinjak.”“Oh… Ya mungkin, karena waktu yang terbatas dibukanya Raudhah untuk jamaah perempuan. Sedangkan yang ingin berziarah, banyak sekali…”“Iya, ya mbak…tapi kan harusnya bisa teratur rapi. Masuk sepuluh-sepuluh bergantian.”“Ya, susah barangkali kalau seperti itu. Karena gelombang cinta dan rindu pada Rasulullah kadang-kadang tidak dapat menembus batas nalar seseorang. Apalagi hanya dengan peraturan-peraturan yang dibuat oleh manusia, misalnya masuk bergiliran seperti usul mbak Riza”.Saya berhenti dulu sebelum pintu keluar masjid Nabawi, untuk minum air Zam-Zam yang dialirkan dari Mekkah ke Madinah oleh Pemerintah Saudi Arabia.Ya Alhamdulillah, mereka masih memfasilitasi para pencinta Rasulullah dalam berziarah dan menyusuri tapak-tapak perjuangannya…
from : http://www.noor.co.id/detail.asp?aid=1307&l=1&cid=7
Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

0 Comments:

Post a Comment

<< Home